Featured

2 PULAU KEMARO

Pulau Kemaro terletak di daerah Sumatera Selatan, tepatnya di tengah sungai Musi yang membelah kota Palembang. Pulau kemaro terletak di hilir sungai musi dan luasnya sekitar 5 ha yang merupakan sebuah delta di tengah-tengah sungai musi yang kini menjadi salah satu objek wisata air. Kemaro sendiri merupakan bahasa Palembang, yang berarti kemarau. Menurut masyarakat Palembang, dinamakan pulau Kemaro karena pulau ini tidak pernah digenangi air. Walaupun volume air di sungai Musi meningkat, Pulau Kemaro tetap saja kering. Karena keunikan inilah, masyarakat sekitarnya menjulukinya sebagai Pulau Kemaro. Di dalam pulau ini terdapat sebuah makam yang diyakini sebagai makan dari Putri Sriwijaya Siti Fatimah yang menceburkan diri ke Sungai Musi.

Latar belakang terbentuknya pulau Kemaro yang menjadi tempat ritual yang tersohor sampai ke manca Negara dan bermakna tinggi ini di awali sebuah legenda cinta sejati antara dua bangsa dan budaya besar zaman dahulu.

Kisah ini di mulai dengan Pangeran yang berasal dari Negeri Tiongkok, Tan Bun An ingin melamar Putri Raja Palembang. Siti Fatimah. Sebagaimana tradisi Tiongkok pada masa itu maka Kaisar Tiongkok menirim emas kawin dalam 9 guci yang di dalamnya berisi emas batangan untuk melamar Putri Raja Palembang tersebut dan untuk mngelabuhi para bajak laut dalam perjalanan yang penuh resiko maka di bagian atas guci di isi dan di lapisi dengan sayur-sayuran

Pada suatu hari, dalam perjalanan berlayar dari Tiongkok menuju Palembang, Tan Bun An membawa rombongan sampailah di muara Sungai Musi dan ketika tanpa sengaja Sang Pangeran ingin mengetahui apakah isi dari kesembilan guci tersebut yang di berikan Kaisar Tiongkok untuk melamar Sang Putri Siti Fatimah namun setelah membuka salah satu guci tersebut dan betapa terkejutnya setelah mengetahui isi guci tersebut adalah sayur-sayuran dan merasa menjadi malu di hadapan calon mertuanya, akhirnya satu persatu guci tersebut d buang ke dalam Sungai Musi. tanpa memeriksa terlebih dahulu, Tan Bun Ann langsung melemparkan guci-guci tersebut ke dalam Sungai Musi. Tetapi pada guci yang terakhir, terhempas pada dinding kapal dan pecah berantakan, sehingga terlihatlah kepingan emas yang berada di dalamnya yang banyak sekali.

Menyadari kekliruannya ini, sang pangeran sangat menyesal dan langsung terjun kedalam sungai untuk mencari kembali guci-guci tersebut besama ajudannya demi melamar sang Putri tercinta. Namun sang Pangeran tidak pernah muncul dari dalam Sungai Musi untuk selama-lamanya.

Melihat orang yang sangat di cintainya tidak muncul dari dasar sungai, akhirnya Siti Fatimah menjadi sangat sedih dan putus asa, lalu dia memutuskan untuk menyusul ke dalam sungai untuk mencari sang Pangeran bersama dayangnya yang setia dan mengatakan bahwa bila dia tidak berhasil menemukan sang Pangeran dan bila suatu saat ada gundukan tanah yang muncul dari dalam dasar sungai ini, maka disanakah kuburan sang Putri Raja.

Akhir dari kisah pencarian ini, ternyata memang benar sang putri telah menyusul Sang Pangeran untuk selama-lamanya dan lalu munculah gundukan tanah yang sekarang di kenal dengan nama Pulau Kemaro.

Gundukan seperti batu karang yang di tengah adalah makam sang Putri Siti Fatimah, di kiri dan kanan adalah ajudan pangeran negeri Tiongkok dan dayang sang Putri. Pada setiap gundukan terdapat atap dari kayu dan dan diberi batu Nisan bertulisan Huruf Tionghoa berwarna Merah dan terawat dengan baik

Apabila kita berkunjung ke pulau Kemaro, akan didapati tiga buah gundukan tanah yang menyerupai batu karang, dimana setiap gundukan diberi semacam atap dari kayu dan diberi batu nisan dengan tulisan Tiongkok yang didominasi warna merah. Menurut cerita, gundukan tanah yang di tengah adalah makam sang putri. Sedangkan dua gundukan tanah yang ada di sebelanya merupakan makam ajudan dari pangeran Tiongkok dan dayang kepercayaan sang putri. Hingga kini makam-makam tersebut masih terawat baik sebagai legenda pulau Kemaro.

Pulau ini akan ramai di datangi oleh para pengunjung etnis cina baik dari dalam maupun luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Cina dan beberapa negara lainnya terutama pada saat Cap Go Me (15 hari setelah Imlek) , dan di sana ada sebuah pohon langka yang di sebut pohon cinta dimana apa bila pasangan muda-mudi yg berpacaran apabila mengukir nama mereka konon cinta mereka akan berlanjut ke pelaminan.
Read more

1 MONPERA (Monumen Perjuangan Rakyat)

Sejarah Berdirinya MONPERA

Berdiri 22 tahun yang lalu, Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) sudah difungsikan sebagai museum penyimpanan benda bersejarah. Terutama, sisa peninggalan perang lima hari lima malam di Palembang.

Bangunan Monpera berdiri kokoh di pinggir Jl Merdeka, persis di samping Mesjid Agung. Ciri khasnya ada enam cagak (tiang) beton yang kokoh bertautan tiga-tiga di bagian samping kiri dan kanannya. Juga terpampang relief yang menggambarkan suasana pertempuran lima hari lima malam di kota Palembang melawan penjajah Belanda.

Masuk ke dalam bangunan berlantai lima itu, terasa berbeda dengan penampilan luarnya. Konon, sejak diresmikan penggunaannya tanggal 23 Februari 1988 oleh mantan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) RI H Alamsyah Ratuperwiranegara, hingga sekarang koleksi benda-benda bersejarah yang dikumpulkan masih sangat minim.


Pendirian museum sendiri, diawali dengan peletakan batu pertama. Sekaligus pemancangan tiang bangunan HUT Kemerdekaan RI ke-30, 17 Agustus 1975. Saat itu, merupakan masa pergantian tampuk kepemimpinan gubernur Sumsel dari H Asnawi Mangku Alam ke H Sainan Sagiman. “Pengganti Pak Asnawi meneruskan pembangunan Monpera itu,”

Dalam perkembangannya, koleksi masih menjadi kendala utama. “Kesadaran dan pemahaman dari kerabat mantan pejuang kemerdekaan untuk menitipkan benda-benda peninggalan keluarga mereka ke sini, masih kurang,” tukasnya.

Nah, untuk menggugah hati dari keluarga pejuang, para pengurus Monpera sejak beberapa tahun yang lalu mempersiapkan empat unit lemari khusus penyimpanan benda-benda koleksi bersejarah. Sayangnya, hingga kini lemari yang di bagian depannya terpampang tulisan “Lemari Ini Masih Kosong dan Menanti Sumbangan Ahli Waris berikutnya,” kondisinya masing kosong melompong.

“Belum ada satupun koleksi sejarah yang ditempatkan di sini. Itulah sebabnya kenapa sampai sekarang, tingkat kunjungan ke Monpera dari waktu ke waktu tak pernah menunjukkan grafik peningkatan yang mengembirakan,” bebernya lagi.

Berdasarkan data yang ada, tercatat rata-rata tingkat kunjungan pelancong per bulan, lebih dari 100-an orang. Paling ramai, saat perayaan HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus.
Hingga kini di monumen yang disebut juga sebagai palagan Palembang itu, hanya terdapat sekitar 300-an koleksi. Di sana, ada foto masa perjuangan enam tokoh perang kemerdekaan.

Mereka masing-masing, dr AK Gani, drg M Isa, Haji Abdul Rozak (Residen Abdul Razak). Kemudian, Mayjen TNI H Bambang Utoyo, Brigjen TNI H Hasan Kasim, dan Kolonel H Barlian. “Foto-foto mereka di pamerkan di lantai satu. Termasuk juga patung-patung dalam berbagai bentuk,”

Di lantai dua, Anda dapat melihat 14 pucuk senjata yang sebagian besar merupakan hasil pampasan perang zaman sebelum kemerdekaan. Ada senjata jenis pistol, senapan, kecepek, ranjau hingga alat pelontar bom yang kerab dipakai pejuang tempo doeloe.
“Untuk keamanan bersama, senjata-senjata itu kita tempatkan di ruang khusus berdinding kaca. Hanya dapat dilihat dari luar. Ini tak lain untuk mengantisipasi ulah tangan-tangan jahil,”

Naik ke lantai tiga museum, terdapat patung yang merupakan replika wajah dari keenam pejuang kemerdekaan asal Sumsel. Juga ada koleksi pakaian dinas baik sipil maupun militer yang dipakai keenam tokoh perjuangan dalam merebut kemerdekaan, itu.

Lantai empat hanya dipakai untuk kantor.
Read more

Delete this element to display blogger navbar

 
© SENI DAN BUDAYA KITO | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger